Biaya Investasi, Pengertian, Jenis, dan Cara Menghitungnya

Uji Agung Santosa

14 Maret 2022

Apa itu biaya investasi? (Foto:123rf.com)
Apa itu biaya investasi? (Foto:123rf.com)

Investasi bukan hal yang asing lagi saat ini. Sebagai bukti, sudah banyak masyarakat yang aware soal investasi. Banyak dari mereka yang sudah mulai menanamkan dananya di sejumlah instrumen investasi seperti saham, obligasi, reksadana, emas, deposito, hingga mata uang kripto. 

Mereka melakukan investasi dengan berbagai tujuan, mulai jangka pendek hingga jangka panjang. Tujuan investasi jangka pendek misalnya tabungan pendidikan anak, membeli rumah, atau membeli mobil. Adapun salah satu contoh tujuan investasi jangka panjang adalah mempersiapkan dana pensiun. 

Apabila kamu tertarik untuk berinvestasi, sebaiknya kumpulkan dulu informasi yang lengkap mengenai hal tersebut. Sebab, investasi bukan hanya sekadar menyetorkan dana sebagai modal. Tapi lebih dari itu. 

Salah satu informasi yang kerap diabaikan oleh investor pemula adalah biaya investasi. Padahal, biaya investasi penting diketahui karena terkait biaya yang harus dikeluarkan untuk setiap instrumen investasi yang terkait. 

Dengan mengetahui biaya investasi, kamu bisa meminimalkan risiko untuk mengalami rasa kecewa jika ternyata nominal investasi yang akan ditarik tidak sesuai dengan perhitungan yang sudah dibuat sebelumnya. 

Apa pengertian biaya investasi? Apa saja jenis-jenis biaya investasi? Apakah biaya investasi antara instrumen investasi yang satu berbeda dengan lainnya? Bagaimana cara menghitung biaya investasi?

Jika kamu penasaran dengan jawabannya, terus simak artikel di bawah ini ya. Semuanya akan dikupas tuntas!

Baca juga: Apa Itu Investasi Bodong? Kenali Ciri dan Jenisnya di Sini

Pengertian biaya investasi

Belum banyak orang yang memahami apa itu biaya investasi dan seperti apa contoh biaya investasi. Berdasarkan Kamus Saku Standar Akuntansi Pemerintah 2013, Dit.APK, DJPb, Kemenkeu, biaya investasi adalah seluruh biaya yang dikeluarkan oleh entitas investor dalam perolehan suatu investasi misalnya komisi broker, jasa bank, biaya legal, kewajiban pajak, dan pungutan lainnya dari pasar modal. 

Dengan kata lain, biaya investasi merupakan biaya transaksi yang digunakan untuk segala kegiatan yang berkaitan dengan pengelolaan instrumen investasi.

Jika disederhanakan, biaya investasi adalah biaya transaksi yang harus dibayarkan setiap investor ingin membeli atau menjual instrumen investasi. 

Misalnya, pada saat kamu hendak membeli saham, tentunya kamu harus menyetorkan modal sesuai dengan berapa lot saham yang ingin dibeli. 

Tentunya, kamu tidak bisa membeli saham sendiri dan membutuhkan jasa perusahaan sekuritas sebagai perantara. Makanya, ada tambahan biaya transaksi yang harus dikeluarkan untuk jasa tersebut. 

Yang perlu kamu ketahui, semakin sering bertransaksi, semakin tinggi pula biaya investasi yang harus dikeluarkan. Itu sebabnya, perhatikan dengan benar biaya investasimu agar tidak tidak kaget saat melihat biaya tambahan tersebut.  

Agar lebih jelas lagi, berikut adalah jenis-jenis dan contoh biaya investasi yang bisa kamu pelajari. 

Jenis-jenis biaya investasi 

jenis-jenis biaya investasi
jenis-jenis biaya investasi

Biaya investasi yang harus dikeluarkan untuk instrumen yang satu dengan instrumen lainnya berbeda. Oleh karenanya, kamu perlu mengetahui jenis-jenis biaya investasi sekaligus contoh biaya investasi dari masing-masing instrumen. 

1. Biaya investasi saham

Berikut adalah contoh biaya investasi saham yang harus dikeluarkan:

Komisi broker

Komisi broker merupakan biaya investasi yang dikeluarkan untuk membayar jasa pada perusahaan sekuritas. Besaran komisi broker biasanya 0,15%-0,25% atau 0,25%-0,35% dari transaksi. Biaya ini sudah termasuk PPN. 

Baca juga: Apa Itu Investasi Saham? Keuntungan, Risiko, dan Cara Membelinya

Biaya transaksi BEI (evy atau IDX levy)

Yang dimaksud dengan biaya transaksi BEI adalah imbal jasa yang diserahkan investor untuk pasar saham. Besaran total biaya BEI sebesar 0,04% dari transaksi.

Rinciannya adalah sebagai berikut:

- BEI: 0,01%

- Kliring KPEI: 0,01%

- Biaya KSEI: 0,01%

- Jaminan KPEI: 0,01%

Pajak Pertambahan Nilai (PPN)

Investor perlu membayar PPN sebesar 0,03% dari setiap transaksi jual beli saham.

Pajak Penghasilan (PPh)

Investor harus membayar PPh sebesar 0,01% dari setiap transaksi yang sifatnya final, dan akan dibayarkan melalui pihak sekuritas. 

Baca juga: Mengenal Reksadana Saham dan Risiko-risikonya

2. Biaya investasi emas

Biaya investasi emas juga memiliki banyak macamnya. Contoh biaya investasi emas adalah sebagai berikut:

Spread

Selisih harga beli dengan harga jual

Storage cost

Biaya penyimpanan emas fisik jika investor menggunakan save deposit box di bank

Biaya cetak atau sertifikat

Biaya yang dikeluarkan jika investor melakukan tabungan emas digital. Maka akan dikenakan biaya cetak ke bentuk fisik dengan biaya berisar Rp 70.000-Rp 100.000 per gram emas

Biaya transaksi jual beli

Biaya yang dikeluarkan saat investor melakukan trading emas

Biaya pajak penghasilan (PPh)

Bagi investor yang memiliki NPWP, biaya PPh yang dikenakan sebesar 0,45%. Sedangkan bagi yang tidak memiliki NPWP, besaran PPh-nya 0,9%


Baca juga: 15 Pertanyaan tentang Investasi yang Paling Sering Muncul dan Jawabannya

3. Biaya investasi reksadana

Biaya investasi reksadana dibedakan menjadi:

Reksadana

Perusahaan yang mengeluarkan reksadana harus mengeluarkan biaya:

- Biaya untuk bank kustodian dan manajer investasi.

- Biaya cetak dan distribusi prospektus.

- Biaya cetak dan distribusi laporan untuk reksa dana.

- Biaya registrasi untuk efek dan transaksi.

- Biaya notaris dan auditor.

- Biaya dana darurat untuk kebutuhan reksa dana.

- Biaya pajak.

Perusahan manajer investasi, harus mengeluarkan biaya:

- Biaya cetak dan distribusi untuk prospektus awal.

- Biaya untuk penciptaan reksa dana (termasuk di dalamnya KIK, imbal jasa notaris akuntan, dan konsultan hukum).

- Biaya administrasi dalam rangka mengelola portofolio reksa dana.

- Biaya untuk pemasaran.

- Biaya cetak dan distribusi formulir untuk kegiatan investasi reksa dana.

- Biaya pembubaran (apabila terjadi likuidasi).

Investor reksadana biasanya mengeluarkan biaya:

- Biaya transfer bank.

- Biaya pembelian unit reksa dana atau subscription fee.

- Biaya untuk menjual reksa dana atau redemption fee.

- Biaya untuk pengalihan reksa dana atau switching fee.

4. Biaya investasi SBR

Berikut adalah biaya investasi Savings Bonds Ritel (SBR):

- Biaya untuk melakukan pembukaan rekening.

- Biaya pembukaan rekening surat berharga.

- Biaya penyimpanan rekening surat berharga dengan periode satu tahun.

- Biaya transfer dana dalam rangka pembayaran kupon.

Baca juga: Cara Menentukan Tujuan Investasi dan Mewujudkannya

5. Biaya ORI

Adapun daftar biaya yang harus dikeluarkan saat melakukan investasi Obligasi Ritel Indonesia (ORI) antara lain:

- Biaya untuk membeli ORI di pasar primer.

- Biaya untuk materai.

- Biaya rekening untuk penyimpanan dana surat berharga.

- Biaya transfer modal.

- Pajak penghasilan 15%.

- Biaya pelunasan untuk pokok ORI.

- Biaya untuk pembelian kembali.

- Biaya untuk MHP atau Minimum Holding Period.

6. Biaya investasi deposito

Sejumlah biaya yang harus kamu keluarkan jika melakukan investasi deposito adalah:

Pajak deposito

Besaran pajak deposito sangat tergantung dari nilai suku bunga. Jika suku bunga besar, maka pajaknya juga akan semakin besar. Besaran pajak deposito mencapai 20% jika depositonya di atas Rp 7,5 juta.

Biaya penalti deposito

Biaya penalti ditentukan oleh bank jika kamu ingin mencairkan dana simpanan deposito lebih cepat dari yang sudah ditetapkan. Namun, kamu tidak akan mendapatkan bunga yang dijanjikan sebelumnya. 

7. Biaya investasi mata uang kripto

Bagi kamu yang tertarik untuk berinvestasi pada mata uang kripto atau cryptocurrency, biaya yang harus disiapkan antara lain:

- Biaya pembelian aset

- Biaya penjualan aset

- Biaya penarikan dana dan deposit

Cara menghitung biaya investasi

cara menghitung biaya investasi
cara menghitung biaya investasi

Setelah mengetahui apa saja jenis dan contoh biaya investasi, kamu harus memperhatikan dengan cermat biaya investasi dan bagaimana cara menghitungnya. Ini dilakukan agar kamu bisa mengetahui keuntungan bersih yang bisa dikantongi. 

Ada sejumlah cara untuk mengetahui bagaimana menghitung biaya investasi. Yang paling mudah, kamu bisa mengajukan pertanyaan secara langsung kepada customer service atau mencari tahu di situs resmi platform yang kamu gunakan.  

Cara lainnya adalah dengan menghitung sendiri biaya investasi. Inilah contohnya:

Investasi dengan broker saham

Ambil contoh, kamu memiliki transaksi saham sebesar Rp 15 juta dengan ketentuan komisi broker 0,25%. 

Besaran biaya investasi saham dengan broker: Rp 15 juta x 0,25% = Rp 37.500

Keuntungan transaksi saham: Rp 15 juta - Rp 37.500 = Rp 14.962.500

PPh 0,01%: Rp 14.962.500 x 0,01% = Rp 1.496,25

Keuntungan setelah dipotong PPh 0,01%: Rp 14.962.500 - Rp 1.496,25 = Rp 14.961.003,8

Artikel menarik lainnya

reksadana_hero_image

Selalu update bareng komunitas investor BMoney!