Mengenal Auto rejection Bawah (ARB) Saham, Investor Pemula Wajib Tahu!

Imanuel Kristianto

29 Agustus 2022

ARB Saham (Foto: 123rf)
ARB Saham (Foto: 123rf)

Bagi investor berpengalaman yang telah lama berkecimpung di pasar modal, tentu tidak asing lagi dengan istilah Auto Rejection Bawah atau disingkat ARB. Sebaliknya, istilah ARB saham mungkin akan cukup membingungkan bagi investor pemula.

Secara garis besar, ARB merupakan salah satu mekanisme perdagangan dalam pasar modal yang bertujuan untuk menghindarkan investor dari kerugian. Dalam dunia saham, ARB di kalangan investor andal memang dikenal memiliki manfaat dan keuntungan tersendiri.

Kendati demikian, bicara soal ARB tidak terlepas dari auto rejection atau disebut juga auto reject saham. Auto rejection yang secara harfiah berarti penolakan otomatis akan berperan sesuai dengan namanya jika harga saham dalam satu hari perdagangan di bursa efek mencapai batasan nilai maksimum dan minimum. Nah, batasan minimum inilah yang kemudian disebut ARB.

Jika disederhanakan, auto rejection bekerja serupa sistem yang secara otomatis menolak suatu transaksi jual beli di bursa apabila penawaran dan permintaan bergerak melampaui batas, semisal naik terlalu tinggi atau turun kelewat rendah.

Baca juga: Ini Artinya ARA Saham yang Perlu Kamu Ketahui!

Mekanisme ini bertujuan untuk membantu harga dan nilai saham tetap terkendali, sekaligus memastikan perdagangan saham dalam kondisi stabil dengan cara mencegah munculnya pergerakan saham ekstrem secara mendadak.

Alhasil, adanya auto rejection menjadikan investor tidak hanya terlindungi dari kenaikan ataupun penurunan harga saham yang terlalu besar, tapi juga mampu mengoptimalkan keuntungan sahamnya lantaran lebih mudah menganalisis fluktuasi saham. Namun, investor pemula juga perlu berhati-hati dengan ketidakstabilan berinvestasi di lahan ini mengingat ARB saham memiliki fluktuasi yang serba cepat.

Agar lebih jelas, mari menyelisik lebih lanjut apa sebenarnya ARB dan manfaatnya dalam saham, serta bagaimana batasannya sehingga mampu memengaruhi harga saham.

Apa Itu ARB Saham?

Sebagai bagian dari auto rejection, ARB merupakan batas minimum penurunan harga saham dalam sehari. Kondisi ini terjadi ketika harga penawaran jual saham pada periode waktu tertentu turun secara signifikan atau bertahap hingga menyentuh atau melampaui batas bawah yang ditetapkan oleh Bursa Efek Indonesia (BEI).

Akibatnya, saham yang dilabeli ARB tidak dapat lagi melakukan permintaan di antrean beli (bid). Jika penurunan penawaran terjadi berkelanjutan, maka harga saham dapat dipastikan bakal terjun secara drastis dan menggoyahkan kestabilan ekonomi pasar.

Baca juga: Cara Kerja Saham sebagai Instrumen Investasi dan Trading

Batasan ARB dalam Saham

Batasan ARB dalam Saham
Batasan ARB dalam saham (123rf)

Batasan nilai maksimum dan minimum auto rejection yang berlaku saat ini ditetapkan oleh Bursa Efek Indonesia (BEI) dalam Keputusan Direksi Nomor Kep-00023/BEI/03-2020. 

Isi peraturan BEI tersebut menerangkan bahwa batasan kenaikan dan penurunan harga saham dalam sehari pada dasarnya sama, yaitu sebesar 35 persen untuk harga saham mulai dari Rp50 – Rp200, sebesar 25 persen untuk saham seharga Rp200 – Rp5.000, dan hanya 20 persen untuk saham dengan rentang harga di atas Rp5.000.

Sesuai peraturan BEI mengenai batasan auto rejection yang telah dijelaskan di atas, dapat disimpulkan bahwa batas penetapan ARB dalam situasi normal adalah berkisar antara 20 sampai 35 persen, bergantung pada nilai saham tersebut. Namun, penetapan batasan ini diubah semenjak adanya pandemi COVID-19, yakni menjadi sebesar 7 persen.

Peraturan terbaru sistem ARB dengan penetapan batasan maksimal sebesar 7 persen ini sejatinya telah menciptakan ketidakseimbangan antara risk dan reward. Namun, karena penurunan maksimal suatu saham dalam jangka waktu sehari adalah 7 persen, hal tersebut bisa berguna juga dalam mencegah penurunan signifikan pada harga saham dan indeks harga saham gabungan (IHSG).

Sebagai contoh, batasan ARB suatu saham ditetapkan sebesar 7 persen dengan saham ditutup pada harga Rp5.000. Maka, penurunan harga saham maksimal adalah  Rp5.000 - (Rp5.000 x 7%) = Rp4.650.

Perhitungan harga Rp 4.650 merupakan batasan bawah saham. Jadi , apabila ada saham yang melampaui batas  harga tersebut, akan tergolong sebagai ARB saham.

Baca juga: Apa Itu Analisa Teknikal Saham? Pahami Pengertian dan Jenis-Jenisnya!

Manfaat ARB dalam Saham

Manfaat ARB dalam Saham
Manfaat ARB dalam saham (123rf)

Kehadiran ARB sejatinya memiliki manfaat bagi pihak, baik pembeli saham maupun perusahaan terkait. ARB memiliki manfaat utama untuk memastikan pergerakan saham tidak terlampau ekstrem, pun membantu investor dalam memastikan bahwa harga saham tidak merosot terlalu tajam ke titik terendah.

Dengan begitu, penyebaran harga saham bisa lebih terkontrol dan penurunannya berada dalam batas wajar sehingga potensi kerugian pun lebih mudah dikurangi.

Suatu saham yang dianggap terkena ARB akan segera mendapat pengawasan BEI untuk dipantau pergerakan indeksnya yang dinilai tidak wajar. Sementara itu, saham yang dilabeli ARB berkepanjangan juga akan diberi peringatan Unusual Market Activity (UMA). Bagi investor andal dan berpengalaman, peringatan ini dapat digunakan sebagai parameter pemeriksaan kesehatan saham.

Itulah sebabnya, investor dengan analisis yang baik banyak mempergunakan saham ARB karena dianggap memberi keuntungan tersendiri. Namun, sebaliknya, kamu yang baru mulai berkecimpung dalam investasi saham, sebaiknya menghindari saham ARB.

ARB memiliki sifat tidak stabil karena fluktuasi harganya bergerak sangat cepat. Akibatnya, risiko turun naik harga saham yang sangat drastis ini bisa memengaruhi investor pemula yang minim pengalaman.

Baca juga: Ini Cara Menghitung Return Saham untuk Perkirakan Keuntungan

Faktor Penyebab ARB

Faktor penyebab terjadinya auto rejection adalah penolakan terhadap transaksi jual beli yang melewati batas rentang harga saham. Sementara itu, terjadinya ARB saham dilandasi setidaknya dua faktor.

Faktor utama penyebab terjadinya ARB adalah penawaran jual saham yang melampaui batas bawah ketetapan harga BEI. ARB berlaku ketika penawaran jual terjadi di bawah atau kurang dari 7 persen harga acuan BEI. Faktor selanjutnya adalah peran investor. Pihak investor dan trader memiliki peran besar dalam menyebabkan terjadinya ARB di pasar saham Indonesia masa kini. 

Para ahli memprediksi, para investor generasi corona membuat keputusan sembrono akibat dorongan impulsif dan rasa panik. Mereka yang kesulitan menenangkan diri akhirnya menjual saham dalam jumlah masif dan dengan harga yang rendah.

Baca juga: Cara Menggunakan Support dan Resistance dalam Saham untuk Pemula

Acuan Harga dan Dasar Perhitungan ARB

Acuan Harga dan Dasar Perhitungan ARB
Acuan harga dan dasar perhitungan ARB (123rf)

Acuan harga serta dasar perhitungan ARB penting untuk diketahui oleh investor pemula yang baru mempelajari investasi saham. Berikut poin-poin pentingnya:

  • Untuk saham yang telah diperjualbelikan di BEI, perhatikan harga penutupan perdagangan sebelumnya;
  • Bagi saham emiten dengan aksi korporasi, perhatikan harga hasil tindakan korporasi;
  • Perhatikan pula harga awal atau perdana, khususnya pada saham emiten yang pertama kali diperjualbelikan di BEI.

 

Selain ketiga poin tersebut, acuan lainnya adalah nilai pasar dalam keadaan wajar yang telah ditetapkan oleh penilai usaha. Hal ini tercantum dalam Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 35/POJK.04/2020 mengenai Penilaian dan Penyajian Laporan Penilaian Bisnis di Pasar Modal.

Tips Membeli Saham ARB

Bagi kamu yang tertarik membeli saham ARB, sebetulnya ada cara untuk memperkecil risiko sekaligus mengoptimalkan keuntungan yang bisa didapat. Salah satunya dengan menjadi scalper trader dan memanfaatkan skema asimetris.

Jika kondisi saham harian mengalami fluktuasi sangat tinggi, kamu bisa mengubah skemanya guna mendapat keuntungan secara cepat dari pergerakan harga saham dengan melakukan pembelian yang terdapat pada skema asimetris.

Contoh penerapannya, saat kamu selesai melakukan pembelian ARB saham di harga bawah, maka hal pertama yang perlu segera kamu lakukan adalah menerapkan posisi open sell di harga penutupan perdagangan (closing) hari sebelumnya.

Nah, karena kenaikan harga closing ARB berada di kisaran 7 persen, maka nantinya persentase itulah yang bakal menjadi keuntunganmu, meskipun kondisi saham sedang merah (bearish).

Baca juga: Cara Kerja Saham sebagai Instrumen Investasi dan Trading

Itulah sejumlah hal yang perlu diketahui investor pemula sebelum membeli saham auto rejection, khususnya ARB saham. Dalam bermain saham, ada baiknya pelajari terlebih dulu cara menganalisis fundamental dan teknikal saham.

Jika kamu tertarik mencoba peruntungan dengan menjajal investasi yang sesuai profil risikomu, boleh juga menjajaki investasi reksa dana mulai dari Rp10 ribu melalui aplikasi BMoney atau download aplikasinya di Play Store ataupun App Store. Selamat mencoba!

Artikel menarik lainnya

reksadana_hero_image

Selalu update bareng komunitas investor BMoney!