Average Down Saham: Pengertian dan Cara Menggunakannya

Imanuel Kristianto

21 Juli 2022

Average down saham (Foto: 123rf)
Average down saham (Foto: 123rf)

Average down saham merupakan salah satu strategi investasi penting dalam bermain saham yang tidak asing terdengar di kalangan investor berpengalaman. Namun, bagi kamu yang belum tahu atau baru mulai tertarik menjajal dunia saham, mari menyelisik lebih lanjut seputar strategi ini. Mulai dari pengertian, cara kerja dan perhitungannya, hingga cara menggunakan average down saham.

Apa Itu Strategi Average Down dalam Saham?

Average down atau kerap disingkat Avg saham adalah salah satu strategi investasi dengan membeli kembali saham yang dimiliki secara bertahap ketika harganya turun. Cara ini dilakukan agar harga pembelian saham menjadi lebih murah.

Secara umum, strategi saham ini bertujuan untuk memperoleh keuntungan optimal dengan rata-rata biaya minimal, terutama untuk menghindari atau memperkecil kerugian dalam pembelian saham. Strategi average down juga dilakukan karena investor sering kali membeli saham dengan cara mencicil di berbagai level harga.

Baca juga: Mengenal ARB Saham, Investor Pemula Wajib Tahu!

Kendati demikian, average down hanya dapat dilakukan pada instrumen yang harganya diprediksi bisa kembali naik sehingga penerapan strateginya harus melalui persiapan yang matang. 

Bagaimana Cara Kerja Average Down?

cara kerja average down
Cara kerja average down (123rf)

Average down dilakukan dengan memantau apakah valuasi saham sudah lebih murah. Nah, ketika harganya turun dengan valuasi murah, investor baru akan membeli lagi saham tersebut. Dengan kata lain, investor hanya akan membeli saham apabila harga terus turun, dan diharapkan harga saham akan kembali naik melampaui modal yang sudah dikeluarkan.

Misalnya, harga pembelian saham Rp10.000. Kemudian, harga saham itu turun menjadi sekitar Rp8.000. Ketika saham tersebut kembali dibeli, harganya akan berada di bawah modal awal dengan average atau harga rata-rata Rp9.000. Dengan demikian, investor akan mendapat untung lebih banyak begitu harga saham naik karena harga beli yang murah.

Baca juga: Ini Artinya ARA Saham yang Perlu Kamu Ketahui!

Untuk menjalankan strategi average down, investor perlu memperhatikan sejumlah hal, di antaranya:

  • Mengetahui pergerakan saham yang dibeli, terutama dari sisi fundamental perusahaan dan valuasi saham.
  • Lihat juga likuiditas saham.
  • Memahami situasi pasar untuk mengetahui saat yang tepat menerapkan average down.
  • Lebih mengacu pada pencegahan emosional dalam berinvestasi.
  • Sebaiknya tidak dilakukan oleh investor pemula karena akan cukup sulit untuk membedakan mana saham yang mengalami penurunan jangka pendek atau sementara (koreksi) dan saham mana yang mengalami pembalikan tren (dari naik ke turun) secara berkelanjutan. 
  • Direkomendasikan bagi investor yang telah memahami pasar modal.
  • Average down paling cocok diaplikasikan pada investasi jangka panjang atau oleh perusahaan yang memiliki dasar dan pergerakan signifikan agar mampu memperkecil kerugian.

Bagaimana Menghitung Average Down?

cara menghitung average down
Cara menghitung average down (123rf)

Besaran rata-rata harga saham yang turun atau nilai average down perlu dihitung untuk mengetahui kapan saat yang tepat membeli saham sekaligus meminimalisasi kerugian. Perhitungan average down mengacu pada perbedaan harga dalam saham yang sama dengan rumus sebagai berikut:

Average down = {(harga1 x lot 1) + (harga 2 x lot 2) + (harga 3 x lot 3) +… } / Total lot

Dalam menghitung average down, besaran dan harga saham lot harus semakin rendah daripada sebelumnya. Jadi, lot 1 lebih tinggi ketimbang lot 2, lot 2 lebih tinggi ketimbang lot 3, dan seterusnya.

Lot adalah satuan baku dalam transaksi jual beli saham di pasar modal yang menunjukkan jumlah unit instrumen keuangan. Berdasarkan regulasi yang ditetapkan oleh Bursa Efek Indonesia (BEI), 1 lot berisi 100 lembar saham.

Baca juga: 1 Lot Berapa Lembar Saham? Berikut Penjelasan dan Cara Menghitungnya

Contoh kasus

Seorang investor memiliki saham di perusahaan X dengan harga per lembar Rp1.000 pada pembelian pertama, Rp750 pada pembelian kedua, dan Rp500 pada pembelian ketiga. 

Investor itu percaya bahwa demand pasar saham perusahaan X akan kembali naik, meski saat pembelian harganya masih terus turun. Maka, untuk mengatasinya, investor tersebut menerapkan strategi average down dengan cara berikut.

Lot 1 = 100 lembar, Lot 2 = 200 lembar, Lot 3 = 300 lembar

Total lot = 100 + 200 + 300 = 600

Average down = {(Rp1.000 x 100) + (Rp750 x 200) + (Rp500 x 300)} / 600

= 100.000+150.000+150.000 / 600

= 400.000 / 600

= 666,67

Jadi, nilai average down saham atau rata-rata biaya yang perlu digelontorkan oleh investor untuk membeli 1 lembar saham perusahaan X adalah Rp666,67. Harga ini tentu lebih rendah dari harga beli aslinya.

Jika prediksi sang investor benar, lalu harga saham perusahaan X ternyata naik, misalnya menjadi Rp1.500 per lembar, maka keuntungan yang dapat diperoleh adalah sebagai berikut:

Rumus keuntungan = {(Total lot x harga saham naik) – (Total lot x harga Avg)}

Keuntungan:

= {(600x1.500) - (600x666,67)}

=  Rp900.000 - 400.000 

=  Rp500.000

Baca juga: 10 Cara Bermain Saham untuk Pemula, Aman dan Minim Risiko

Untung Rugi Menggunakan Average Down

Untung Rugi Menggunakan Average Down
Untung rugi menggunakan average down (123rf)

Sebagaimana berinvestasi pada umumnya, ada keuntungan maupun risiko dan kerugian yang bisa kamu dapatkan dari menjalankan strategi average down.

Jika melihat keuntungannya, strategi ini tidak mengharuskan kamu menghitung seluruh keuntungan investasi pada masing-masing harga. Sebaliknya, kamu cukup membandingkan harga rata-rata ketika pembelian saham dengan harga beli saat ini. Keuntungan lainnya, strategi ini memungkinkan investor secara leluasa menambah investasi yang dimiliki.

Dilihat dari risiko dan kerugiannya, strategi ini bisa membuat uang yang diinvestasikan tertahan lama sehingga butuh kesabaran untuk menunggu harga saham naik lagi. Ini tetap berlaku meski fundamental perusahaan tergolong bagus. Lalu, investor berpotensi mengalami kerugian sangat besar jika harga saham terus turun dan sulit naik lagi.

Baca juga: Jangan Salah! Begini Cara Membedakan Emas Asli dengan Kuningan

Cara Menggunakan Average Down Saham

Cara Menggunakan Average Down Saham
Cara menggunakan average down saham (123rf)

Meski terlihat mudah, strategi average down tidak bisa asal diterapkan. Kamu butuh perencanaan untuk menentukan waktu yang tepat melakukan average down dengan cara berikut:

Baca juga: 4 Cara Mendapatkan Uang 300 Ribu Per Hari untuk Menambah Pemasukan

1. Pantau dan catat pergerakan harga saham

Selama beberapa waktu, kamu harus terus memantau sekaligus mencatat seluruh pergerakan saham agar mendapat gambaran lebih jelas dan tepat mengenai perkiraan turun naik harga saham, berapa persen saham yang akan dibeli saat harganya turun, potensi kenaikan kembali harga saham, dan persentase kenaikan harga saham.

2. Lakukan analisis perusahaan

Analisis fundamental perusahaan bisa dilakukan dengan mengecek laporan keuangan terakhir perusahaan tersebut. Tujuannya untuk memastikan kelayakan emiten tersebut, sekaligus membantu membedakan antara penurunan harga jangka pendek dengan tren penurunan yang berkelanjutan.

3. Cek sentimen pasar

Selain menganalisis perusahaan, cek pula sentimen pasar. Pengecekan ini bisa dilakukan menggunakan analisis teknikal yang salah satu fungsinya memastikan apakah harga saham yang turun bisa naik kembali agar tidak merugi. Berikut hasil pengecekan yang bisa kamu dapatkan:

  • Faktor internal pemicu turunnya harga saham perusahaan
  • Dominasi pasar secara menyeluruh
  • Analisis grafik emiten terkait
  • Faktor pemicu volatilitas, teknikal, dan area support lainnya yang berhubungan dengan arah harga

4. Pastikan harga bukan turun tajam dan sementara

Meski average down memprioritaskan penurunan harga, pastikan kamu menerapkan strategi ini hanya ketika harga tidak turun terlalu tajam. Selain itu, beli saham ketika selisih penurunan harganya tinggi agar potensi keuntungan yang kamu peroleh bisa semakin besar dan optimal.

Baca juga: Mengenal Growth Investing dan Strategi Investasinya

5. Buat batasan

Kamu perlu membuat batasan untuk mencegah terjadinya over trading atau meminimalisasi potensi kerugian lainnya akibat menerapkan average down saham, di antaranya:

  • Batasi pembelian saham dengan menentukan jumlah lot maksimum dan harga minimum. Meski bisa membeli saham lebih banyak ketika harganya terus turun, penurunan harga ini bisa berlangsung cukup lama.
  • Pilih titik keluar yang akan menjadi tolok ukur kapan suatu transaksi harus berakhir dan kapan harus membeli saham tambahan karena timing sangat penting.
  • Jangan ragu untuk segera melepas saham ketika terlihat terus bertahan di level support (batas bawah) dan memiliki potensi pergerakan kembali turun, tanpa ada sedikit pun pantulan.

 

 

Itulah informasi seputar average down saham dalam Investasi yang perlu kamu ketahui dan cara menggunakannya. Jika ingin memulai investasi dari yang terkecil, cobalah berinvestasi reksadana di aplikasi investasi BMoney yang bisa kamu download di Play Store ataupun App Store.

Artikel menarik lainnya

reksadana_hero_image

Selalu update bareng komunitas investor BMoney!