8 Rekomendasi Saham Teknologi Versi BEI Tahun 2024

Uji Agung Santosa

25 Maret 2023

Rekomendasi saham teknologi di Indonesia (123rf.com)
Rekomendasi saham teknologi di Indonesia (123rf.com)

Sejak beberapa tahun belakangan, saham teknologi mulai unjuk gigi dan banyak dilirik investor dalam negeri. Hal ini lantaran potensi ekonomi digital yang cukup menggiurkan, mengingat generasi muda yang melek teknologi kini mendominasi kondisi demografi Indonesia.

Meski begitu, saham sektor teknologi yang terbilang masih bertumbuh sering kali terombang-ambing dengan perubahan kondisi pasar dan ekonomi nasional ataupun global. Tak heran, setahun lebih sejak dirilis pada 2020, nilai indeks saham tekno terbaca fluktuatif. 

Setelah sempat meroket pada pertengahan 2021, lalu mendadak turun dan stagnan sepanjang 2022, barulah memasuki kuartal pertama 2023 indeks sektor ini kembali menguat. Oleh sebab itu, sebagaimana disarankan para ahli, membeli saham sektor teknologi untuk saat ini perlu ekstra hati-hati.

Di satu sisi, matriks umum seperti halnya nilai transaksi e-commerce, revenue, EBITDA margin, market share, hingga kemungkinan ekspansi secara organik ataupun anorganik memang diprediksi bakal menjadi katalis positif dalam saham sektor teknologi.

Namun, alih-alih bergerak agresif, alangkah lebih baik jika memperhatikan lebih dulu bagaimana kinerja fundamental emiten teknologi setidaknya di tahun ini. Cek juga mana yang paling potensial mencapai profitabilitasnya dan seperti apa ekosistem yang dimiliki.

Rekomendasi Saham Teknologi Terbaik 2023

Rekomendasi saham teknologi.
Rekomendasi saham teknologi.

Bagi kamu yang tertarik bermain di sektor teknologi, berikut daftar saham tekno terbaik versi Bursa Efek Indonesia (BEI) tahun 2023.

1. PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk. (GOTO)

Siapa yang tidak tahu nama besar GoTo alias Gojek dan Tokopedia? Saat ini, GOTO tercatat memiliki saham dengan kapitalisasi tergemuk di sektor teknologi. Terlebih ketika IPO dua perusahaan raksasa ini dikabarkan telah bergabung menjadi satu. 

Gojek yang berkibar di ranah ojek online dan Tokopedia yang gemilang di ranah e-commerce masing-masing bukan hanya membuktikan bahwa aplikasinya sangat diminati dengan memiliki lebih dari 10 juta pengguna, tapi juga telah menjelma sebagai salah satu market leader di Tanah Air.

Sebagai gambaran, per Februari 2023, saham GOTO tercatat melesat lebih dari 27 persen dari level 91 ke level 116 dengan kapitalisasi pasar hampir mencapai Rp138 triliun dan nilai transaksi jual beli saham yang laris manis di kalangan investor mencapai lebih dari setengah triliun.

2. PT Bukalapak.com Tbk. (BUKA)

Sama halnya saham Tokopedia yang menanam sahamnya dalam GOTO, saham BUKA milik Bukalapak juga merupakan market leader sekaligus pionir salah satu marketplace online di Indonesia. 

Perusahaan Bukalapak mulanya didirikan tiga mahasiswa ITB, yakni Nugroho Herucahyono, Achmad Zaky, dan Muhamad Fajrin Rasyid. Ketiganya mulai menjajaki e-commerce di Indonesia sejak 2010 kemudian dilanjutkan listing di BEI pada 2021.

Bila ditelisik, sumber keuntungan utama Bukalapak pada dasarnya berasal dari sektor investasinya, bukan aplikasi online yang dijalankannya. Selama ini, Bukalapak memang mengadakan investasi dengan sejumlah perusahaan lain, terutama dalam hal bekerja sama sebagai penyedia rantai pasok bagi mitra.

Selain itu, serupa dengan saham teknologi GOTO, ada setidaknya tiga hal yang membuat saham BUKA menjadi potensial, yakni lantaran sektor ini termasuk sulit dijajal perusahan pendatang yang tergolong masih baru. 

Bukalapak juga termasuk salah satu brand yang kerap berinovasi terkait produk dan layanan. Terakhir, karena didukung pula dengan penetrasi penggunaan teknologi internet dan ponsel pintar yang semakin besar pula sehingga peluang ekspansi ke negara lain semakin terbuka lebar.

Baca juga: 12 Daftar Saham Batu Bara di Bursa Efek Indonesia (BEI)

3. PT DCI Indonesia Tbk. (DCII)

Sejak berdiri pada 2011 silam, DCII dikenal sebagai perusahaan emiten teknologi berupa layanan jasa yang berfokus sebagai penyedia penyimpanan data server (hosting) serta penyedia data center atau colocation. Data center merupakan fasilitas khusus yang banyak digunakan perusahaan dalam menyimpan data, baik data konsumen hingga data internal.

Meski peminatnya banyak, ditambah lagi dengan semakin melambungnya jumlah transaksi digital, nyatanya rata-rata perusahaan tidak dengan sengaja menyiapkan fasilitas ini secara mandiri lantaran biaya yang tinggi dan prosedur yang rumit. Itulah sebabnya, jasa dari perusahaan lain semacam DCII ini sangat dibutuhkan.

DCII sendiri kesohor dengan produk untuk perusahaan lainnya atau dikenal dengan istilah B2B yang sahamnya melesat drastis melebihi lima kali lipat pada pertengahan tahun 2021. Hingga saat ini, harga saham per lembar yang bisa dikeluarkan DCII berada di level Rp30 ribu hingga Rp45 ribu sehingga terbilang konsisten.

4. PT Elang Mahkota Teknologi Tbk. (EMTK)

PT Elang Mahkota Teknologi atau lebih dikenal dengan sebutan grup EMTEK merupakan perusahaan yang melebarkan sayap di dunia media dan teknologi. Produknya mencakup sejumlah penyedia media kesohor seperti channel televisi Indosiar dan SCTV, O Channel, produksi konten SinemArt, berbagai website media seperti Kapanlagi dan Liputan6.com, hingga aplikasi berbayar Vidio.com. 

EMTK juga melakukan ekspansi ke ranah finansial lewat akuisisi terhadap Bank Fama Indonesia, dan mulai bergerak di bidang investasi teknologi. Meski saham perusahaan EMTK sempat melemah pada Februari 2022, kapitalisasinya tercatat menguasai pasar hingga mencapai lebih dari Rp60 triliun.

Baca juga: 30 Daftar Saham Syariah Terbaik, Pilihan Investasi Bebas Haram dan Riba

5. PT Global Digital Niaga Tbk. (BELI)

Meski PT Global Digital Niaga Tbk. (BELI) sempat mencatatkan posisi saham melemah pada Februari 2022, tetapi nilai kapitalisasi pasarnya cukup tinggi hingga lebih dari Rp54 triliun. 

Dari sejumlah emiten teknologi yang terbilang baru, profitabilitas dan kinerja perusahaan ini layak diperhitungkan lantaran ekosistem kerjanya dengan tiket.com dan RANC. Apalagi, sejauh ini, Grup Djarum juga dinilai memiliki track record yang baik di kalangan pengusaha dan investor.

6. PT Galva Technologies Tbk. (GLVA)

PT Galva Technologies Tbk (GLVA) telah lama dikenal dikenal sebagai perusahaan teknologi yang bukan hanya bergerak di bidang distribusi peralatan teknologi, tapi juga di bidang perdagangan. 

Mulanya. perusahaan yang berdiri tahun 1991 ini bernama PT. Galva Technologies Corporation. Saat ini, GLVA telah kesohor lewat beragam produk teknologinya yang tak hanya digunakan dalam keperluan sehari-hari, tapi juga beragam segmen industri. Beberapa di antaranya bahkan telah bekerja sama dengan sejumlah perusahaan raksasa global seperti Yamaha, Samsung, Sony, dan Hitachi.

Baca juga: Ciri-Ciri dan Daftar Saham Blue Chip yang Perlu Diketahui

7. PT Metrodata Electronics Tbk. (MTDL)

PT Metrodata Electronics Tbk. telah berdiri sejak tahun 1975, tapi baru mulai melantai di BEI 15 tahun kemudian tepatnya pada tahun 1990. Perusahaan ini merupakan emiten teknologi yang bergerak di bidang penyedia jasa konsultasi teknologi sekaligus distributor berbagai produk teknologi Indonesia.

Produk yang didistribusikan tentu tak main-main dan sudah memiliki nama sekaligus pasarnya tersendiri di antaranya mencakup hardware dan software seperti merek Acer, Dell, hingga Microsoft Azure dan Oracle. 

Saat ini, MTDL telah membuka lebih dari 20 kantor cabang di seluruh kota besar di Indonesia. Saham-sahamnya pun tergabung ke dalam beberapa indeks di antaranya IDXTechno, IDX80, IDX Value 30 (IDXV30), Kompas100, dan Jakarta Islamic Index 70 (JII70). 

8. PT M Cash Integrasi (MCAS)

PT M Cash Integrasi merupakan perusahaan saham patungan alias konglomerasi yang didirikan pada tahun 2020 dan bergerak di sektor teknologi. Perusahaan MCAS ini menawarkan berbagai macam jasa dan produk digital di antaranya aplikasi pembayaran digital dan aplikasi PPOB, sejumlah layanan konten digital kesohor salah satunya channel YouTube Podcast Close the Door milik Deddy Corbuzier, hingga motor listrik dengan brand Volta.

Itulah 8 daftar saham teknologi terbaik versi BEI tahun yang bisa kamu pertimbangkan sebagai emiten teknologi. Namun, bagi kamu yang belum ingin berinvestasi saham secara langsung, cobalah jenis investasi saham yang lebih ringan dengan memilih instrumen berupa reksa dana saham.

Untuk mempermudah proses berinvestasi, saat ini sudah banyak platform investasi yang bisa kamu jajal. Salah satu yang direkomendasikan adalah aplikasi investasi BMoney supported by CGS International Sekuritas Indonesiayang bisa diunduh di Play Store atau App Store. Selamat mencoba!

Artikel menarik lainnya

reksadana_hero_image

Selalu update bareng komunitas investor BMoney!